Berita Terbaru :
Probolinggo - Antisipasi Aksi Premanisme, 9 Anjal dan Pak Ogah Diamankan
Surabaya - Antisipasi Penyebaran Covid-19 Dilingkungan Perusahaan
Surabaya - Ditreskrimsus Polda Jatim Ungkap Tindak Pidana Perikanan
Sidoarjo -  Penyandang Disabilitas Akan Diprioritaskan Program Vaksinasi
Surabaya -  Pembelajaran Tatap Muka Tetap 5 Juli 2021 Mendatang
Surabaya -  Alhamdulillah 2 Ribu Peserta SBMPTN Diterima di Unair
Sidoarjo -  Menteri P3A Pastikan Santri Korban Sodomi Guru Ngaji Dapat Pendampingan
   

Rehat   19 Mei 2021 | 12:23 wib
Pedagang Ketupat Tetap Eksis Berjualan
Meski tradisi ini mulai surut si masarakat namun penjual janur ketupat dan lepet di Pasar Tembok Surabaya tetap berjualan demi melestarikan tradisi hari raya ketupat. Foto Saipul Nadim
 Surabaya  Tradisi hari raya ketupat , merupakan tradisi masarakat pasca lebaran hari raya idul fitri. Biasanya tradisi perayaan hari raya ketupat dilakukan masarakat dengan membuat makanan dari ketupat dan lepet yang berbahan utama janur di isi dengan beras dan ketan yang dimasak menyerupai lontong.

Para pedagang janur, ketupat dan lepet di pasar tembok jalan kali butuh Surabaya. Setiap tahun mereka berjualan di pasar ini , tidak hanya janur yang dijual , mereka juga menjual ketupat dan lepet mentah yang belum diisi beras dan ketan untuk lepet, namun bagi masarakat yang tidak mau repot memasak sajian ketupat dan lepet. Di pasar ini juga disediakan ketupat dan lepet yang sudah masak. Untuk harga cukup pas dikantong masarakat , untuk ketupat yang belum matang per 10 biji dijual seharga Rp 15 ribu, untuk lepet dijual Rp 10 ribu. Sedangkan untuk ketupat matang dijual Rp 25 ribu per 10 biji , untuk lepet Rp 5 ribu per biji.

Pedagang di pasar ini berjualan janur , ketupat dan lepet bisanya daganganya digelar setelah seminggu hari raya idul fitri. Pasalnya tradisi dimasarakat jawa hari raya ketupat ini dilakukan pada seminggu setelah hari raya idul fitri. Masarakat membuat janur kemudian dianyam menjadi ketupat dan lepet ,dan di isi beras lalu dimasak untuk diantarkan ke sanak dan kerabat.

Menurut Teni salah satu pedagang ketupat di Pasar Tembok Surabaya, setiap tahunnya masarakat yang membeli ketupat maupun lepet berkurang di tambah adanya pandemi covid-19, sehingga tradisi ini lambat laun di yakini teni mulau tergerus oleh jaman.

Tradisi hari raya ketupat ini juga bagi lastri salah satu pembeli ketupat di Pasar Tembok Surabaya, menjelaskan , ia setiap tahunya membuat atau memasak ketupatdan lepet , untuk tetap melestarikan tradisi , sehingga tradisi ini tidak lenyap di mata generasi muda sekarang.

Sementara itu cinta pedagang ketuat dan lepet matang, mengatakan, ia bersama ibunya setiap tahun berjualan ketupat dan lepet,yang sufah matang , untuk menyediakan pemebeli yang enggan bersusah susah membuat anyaman ketupat dan lepet,biasanya jualanya ini di serbu pembeli pada hari ketiga sebelum peryaan hari raya ketupat.

Dengan tetap eksinya para pedagang ketupat dan lepet dipasar tembok surabaya ini, mereka berharap masarakat jawa kususnya disurabaya jangan meninggalkan tradisi hari raya ketupat, yang sudah ada sejak dahulu.
Reporter : Saipul Nadim
Redaktur : pulung




 Baca Juga 

Pedagang Ketupat Tetap Eksis Berjualan
Rehat
Pastikan Operasi Ketupat 2021 Lancar, Irwasum Polri Tinjau Bungurasih
Pemerintah
Terpopuler
Menteri P3A Pastikan Santri Korban Sodomi Guru Ngaji Dapat Pendampingan
Politik 3 jam

Pembelajaran Tatap Muka Tetap 5 Juli 2021 Mendatang
Pendidikan 3 jam

Antisipasi Aksi Premanisme, 9 Anjal dan Pak Ogah Diamankan
Peristiwa 2 jam




2021 © www.amtv.co.id
Tentang Kami
Disclaimer
Pedoman Media Siber
Ketentuan & Kebijakan Privasi
Iklan